Selasa, 16 September 2008

ASDOM + NARKOBA (3-Tamat)


Setelah berlelah2 mencari alamat rumah si Ilyan, akhirnya gue dapet juga keluarga si Ilyan. Dasar......... udah jadi budak narkoba! Minta alamatnya susah bener yak?! Gue udah 2 kali dibohongin, untung gue ngak bego2 amat untuk langsung percaya. Alamat pertama dia kasih di daerah Dramaga/Dermaga - Bogor dekat kampus IPB. Anehnya gue langsung curiga, jangan2 ini mah tempat 'para teman2 setannya berkumpul'. Langsung aja gue gertak, tapi masih juga berkelit mencari2 alasan untuk tidak memberitahukan alamat rumahnya. Alasan yang dipakainya ialah karena takut ketahuan orang tuanya. Hohoho......justru orang tuanya dong yang nomor satu kudu diberitahu. Kali kedua adalah ketika Ilyan memberikan nomor2 telpon yang ternyata udah tulalit. Idiiiiiiih kalo ngak karena Tuhan dan ingat saat2 si Ilyan minta tolong, gue mungkin udah menyerah ngkali. Akhirnya dengan kekuatan doa dan kerjasama yang baik dengan mas Yanto dan Hj. Endang dari pesantren 'Nurul Jannah' akhirnya Ilyan menyerah.

3 hari kemudian, setelah gue mencari2 waktu yang tepat dan setelah berdebat dengan suami gue yang tercinta (laki gue yang tercinta akhirnya mengakui bahwa dia sebenernya ngak rela gue berlelah2 ngurusin si Ilyan, selain karena kerjaan gue sebagai ibu rumah tangga takut terbengkalai secara finansial juga keluarga gue lagi kudu hemat luar dalam --- cerita ini akan gue kupas tersendiri nanti), gue dengan kak Tikus Mondok atau biasa dipanggil T'Mon (dia adalah sahabat gue lahir batin) dan Keke (gadis manis yang sedang dalam 'asuhan' gue --- cerita ini akan gue kupas tersendiri lagi nanti) bersama2 sejak jam 8 pagi bersiap2 mencari alamat rumah Ilyan yang ternyata ada di desa Ciasmara, +/- 20 km dari Dermaga. Jauh? BANGET!!!! Kira2 ada ngkali 3-4 jam dari Jakarta. Masuk ke pedalaman Bogor. Jalanannya walaupun udah pada di aspal tapi pada ompong2 jadi ada di beberapa titik gue kudu mengalah demi angkot bisa lewat tanpa harus membuat para penumpang menjerit2 ketakutan. Pemandangan? Benar2 menghibur. Udara masih bersih dan dingin. Gue sampai mematikan AC mobil karena udara cukup sejuk (padahal sih maksudnya supaya bisa hemat bensin gitu loh, hehehehe).

Walaupun selama perjalanan terasa nyaman dan santai namun sebenernya dalam hati gue dag dig dug ngak karuan rasanya. Gue bingung mau ngomong apa. Ini perasaan gue:

1. "Gue udah janji untuk tidak memberitahukan orang tua Ilyan mengenai keadaan si Ilyan, tapi sekarang gue koq malah mencari orang tua/keluarga si Ilyan yah? Inikah yang dinamakan mengkhianati?"
2. "Tenang.......tenang....... gue sudah melakukan apa yang benar. Dalam kasus2 seperti ini menolong nyawa lebih penting daripada hanya sekedar menjaga nama baik".
3. "Gimana yah orang tua si Ilyan nanti? Kalau ada yang sakit jantung/pingsan gue bisa repot"
4. "Jangan2 ini alamat palsu".

Wah...pokoknya gundah gulana dah judulnya.

Sesampainya kita disana. Semua ternyata lancar2 saja. Alamat langsung didapat bahkan ada orang yang langsung mengantarkan kita ke tempat kakaknya. Kakaknya yang bernama Santi tidak percaya dengan penjelasan gue bahkan seluruh kampung sampai pada ngeriung di depan rumah Santi untuk mendengarkan sendiri kebenaran cerita Ilyan. Akhirnya setelah berbicara selama 1 jam lebih, kita pamit minta diri. Santi berjanji untuk datang ke Jakarta melihat sendiri adiknya yang sedang dirawat di Cikarang pada hari minggunya.

Hari Minggu, gue dan T'Mon menjemput Santi dan Ichsan, suaminya, plus Ferry, anaknya yang masih berumur 4 tahun di stasiun Djuanda. Dari sana kita langsung menuju Cikarang. Oh Tuhan........ ternyata Cikarang jauh pun! Udara panas, debu terbang kemana2 dan teriknya matahari itu loh yang bikin mata cepet capek. Ngomong2 gue nyetir sendiri pula, soalnya si T'Mon kagak bisa nyetir. Akhirnya setelah 3 jam (gue nyasar jek), kita sampai di pesantren Nurul Jannah.

Pesantrennya sih kecil namun asri. Pak Hj. Endang adalah seorang bapak yang berkharisma. Kebaikan hatinya benar2 terpancar dari wajahnya, pembawaanya lucu, santai namun berwibawa. Nurul Jannah ternyata salah satu dari pesantren terbaik yang diakui oleh BKKBN sebagai tempat rehab alternatif selain Abah Anom. Pasiennya banyak dan beragam. Ada yang sakit HIV - Aids, kanker otak, kecanduan narkoba alias sakaw berat dan syaraf terganggu. Namun semua penyakit ini biasanya dicetus oleh kecanduan narkoba.

Ilyan yang sudah dirawat disana selama sebulan lebih terlihat lebih gemuk sedikit, putih, cantik dan manis dengan jilbabnya. Bener2 ngak kelihatan sebagai pencandu narkoba lah pokoknya. Hati gue sampai berbunga2 penuh syukur melihat perkembangan Ilyan. Oh Yesus, Kau benar2 menjawab doaku. Ilyan menyambut rombonganku dengan malu2 dan airmata bahagia. Keluarga Ilyan langsung masuk ke kamar Ilyan untuk pembicaraan dari hati ke hati, sedangkan gue dan T'Mon sibuk makan di luar bareng pak Hj. Endang yang cerah ceria (kebetulan hari itu adalah hari pengajian bersama, makanya ada acara makan2 bersamanya).

Setelah puas bertangis2an, Santi langsung diajak berbicara oleh pak Haji mengenai Ilyan. Pak Haji memerlukan persetujuan dari keluarga Ilyan jika Ilyan ingin terus dirawat di tempat itu. Anehnya, mereka menolak. Gue sampai bingung dengan cara berpikir mereka. Padahal boleh dikatakan si Ilyan mendapatkan perawatan gratis jika ia tetap disana. Lagipula pesantren ini udah berpengalaman dan mempunyai sarana menghadapi pecandu narkoba bahkan yang sudah tertular HIV Aids. Dan sebenernya, untuk dapat dikatakan sembuh diperlukan waktu 6 bulan sampai 1 tahun masa rehab. Lah ini baru sebulan lebih, koq keluarganya udah minta dibawa pulang? Emangnya mereka bisa dan sanggup ngurusin si Ilyan? Apalagi si Ilyan khan ada resiko penyakit Hepatitis dan HIV-Aids. Menurut Santi dan Ichsan, Ilyan akan mereka masukan ke pesantren terdekat dan akan mereka jaga supaya tidak keluar kemana2. Hah?!!! Segampang itukah solusinya? Jika segampang itu tempat rehab ngak perlu lagi dong? Gue sampai geleng2 kepala. Ilyannya sendiri mau pulang atau enggak? jelas dia minta pulang dong. Ngapain juga tinggal di pesantren yang seperti penjara (ini sih kata Ilyan sendiri), khan lebih enak tinggal di rumah.

Dengan keukeuh surekeuh merekeuh, keluarga Ilyan memaksa Ilyan untuk dibawa pulang. Ya udah..... dengan terpaksa (padahal pak Haji udah susah payah merayu, membujuk bahkan sampai agak2 memaksa --- doi sampai ngeluarin surat2 kepercayaan dari kepolisian dan buku2 bergambar tentang penyakit Aids, agar Ilyan mau dirawat disana) pak Haji dan gue merelakan Ilyan dibawa pulang keluarganya. Kecewa? Anehnya koq ngak juga ya.......pokoknya gue, Reki, bu Ince, T'Mon, Yanto, Haji Endang dan teman2 MP (yang udah bantu doa dan semampunya) udah berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan Ilyan. Masalah si Ilyan mau sembuh atau tidak, itu semua adalah rencana yang maha kuasa. Mungkin saja, Ilyan memang sudah kapok dan sembuh namun mungkin juga Tuhan mau pakai orang lain untuk menyembuhkan si Ilyan ini. Whatever it is, we've tried our best! Gue rela.

Buat teman2 MP yang pengen tahu pesantren Nurul Jannah ini alamatnya: Jl. Swadaya 10, Cikarang (dekat markas tentara samping stadion mini). Mudah2an info ini bisa berguna untuk para MPers yang memerlukan bantuan tempat rehab.

Catatan:

* Pesantren ini BUKAN tempat berobat secara jasmani namun secara rohani saja. Disini adalah tempat rehab khusus untuk pecandu narkoba yang ingin bertobat namun sulit atau tidak tahu bagaimana caranya untuk berhenti padahal kepengen berhenti.
* Sekarang tempat ini sudah tidak menerima pasien perempuan. Ilyan adalah pasien perempuan yang terakhir disini.
* Cerita ini merupakan sambungan dari jurnal gue yang judulnya "Ada seekor ular berbisa di bawah kasur gue selama 3 bulan dan gue ngak tahu!" dan "Ada seekor ular berbisa di bawah kasur gue selama 3 bulan dan gue ngak tahu!"

LINK postingan cerita ini di:
http://omotusair.multiply.com/journal/item/49
http://omotusair.multiply.com/journal/item/46
http://omotusair.multiply.com/journal/item/47


*Terima kasih atas kebaikan hatinya memberi link ceritanya*

ASDOM + Narkoba (2)


Terima kasih buat teman2 yang sudah turut empati dan simpati dengan kasus Ilyan ini. Sebelum gue cerita tentang keadaan Ilyan sekarang ada baiknya gue cerita lagi mulai dari sambungan jurnal kemarin (ini buat catatan gue aja koq sekalian juga untuk memuaskan beberapa teman yang penasaran dengan akhir cerita si Ilyan ini).



Gue bener2 serba salah. Satu sisi niat gue mau nolong tapi setahu gue kredibilitas seorang pengguna (bukan eks pengguna loh ya!) narkoba itu patut dipertanyakan. Jadi walaupun si Ilyan udah bilang mau berhenti tapi yang tahu Ilyan serius dengan niatnya apa nggak ya cuma diri dia sendiri dan Tuhan. Untuk mengetes keseriusannya gue minta Hpnya (karena HP adalah sarana komunikasinya dengan sesama pemakai + bandarnya dan gue pengen memutus hubungannya dengan mereka) dan persediaan barang yang masih dia punya. Dengan berat hati (dan gue tahu bener kalau Ilyan ngak rela) si Ilyan menyerahkan Hpnya lengkap dengan 3 chip nomor kartunya. Wah....... udah seneng nih gue, apa artinya si Ilyan udah bener2 pengen berhenti. Waktu gue tanya persediaan barangnya, dia jawab, “Persediaannya sih udah habis, bu. Saya sudah terakhir pakai 2 minggu yang lalu, jadi saya rasa saya sudah sembuh”. HAH?!!! Cepat amat sembuhnya? Lagipula patokannya dia apa koq bisa bilang udah sembuh? Kadang gue berpikir, apa si Ilyan anggap gue gampang dikibulin atau jangan2 dia emang naif, gue bener2 ngak tahu. Lalu gue minta dia untuk berjanji akan rajin sholat dan berhenti pakai narkoba lagi, yang langsung diiyakan olehnya. Dan ditambah lagi gue ajak dia berdoa bersama setiap hari sesuai dengan kepercayaan masing2 untuk memohon kekuatan supaya bisa memutus rantai setan ini. Walaupun keadaan awal terlihat menjanjikan niat kesembuhan Ilyan namun at the end, akhirnya emang gue cuman dapat jawaban 50-50 tentang keseriusan si Ilyan.



Kecurigaan gue akhirnya terbukti, 2 hari kemudian si Ilyan gue ketemukan dalam keadaan berjongkok di tempat gelap sambil bengong2 sendirian (asli persis seperti ayam sakit tetelo). Seharian itu Ilyan berubah2 terus moodnya, kadang dia bisa mohon maaf karena malu dengan gue, kadang gue yang dimaki2 karena sok tahu mau ngatur kehidupannya. Bingung? Ya, jelas dong....... gue mana punya pengalaman ngurus korban narkoba, kalau cuman nanganin remaja putus cinta, kabur dari rumah, berantem dengan orang tua, selingkuh atau suami istri ngak cocok sih udah biasa, tapi kalau korban narkoba eng....ing....eng........ gue asli cuman ngandelin Tuhan dan insting doang. Ya udah, karena niat gue awalnya adalah menolong artinya gue musti bener2 nolong sampai sebatas kemampuan gue, mau si Ilyan sembuh apa tidak itu semua gue kembalikan ke Yang di Atas.



Langkah awal gue adalah mencari orang yang kompeten buat nolong ini anak. Karena jelas bukan kapasitasnya gue untuk menangani masalah ini. Anehnya, gue bisa tiba2 diingatkan kepada seorang sahabat keluarga, Recky, yang emang terjun dibidang penanggulangan korban narkotika. Begitu mendengar gue meminta tolong masalah narkoba, Recky langsung terbang ke rumah gue padahal baru saja pulang dari Malang (Bener2 salut gue ama bapak 2 anak ini dalam kegiatannya memberantas narkoba, padahal sebenernya bapak ini amat sangat super sibuk karena dia harus mengurus perusahaan jasa perparkiran, jasa sekuritinya, maintain hubungan dengan anak2 asuhnya dan keluarganya juga dong --- thanks ya Reck!).

Balik ke Ilyan, begitu tahu gue cari bantuan ke Recky, si Ilyan langsung bersikap defensif. Namun dasar Recky ngak ada matinya, dia bisa aja ‘masuk’ ke level pemikiran si Ilyan, yang langsung membuat si Ilyan jadi feel comfortable ke dia. Singkat cerita, Recky memantau perkembangan si Ilyan sambil mencari rumah detox yang murah namun baik buat Ilyan. Tahu ngak, rumah detox itu ternyata ngak ada yang murah. Semua hitungannya udah jutaan. Waktu gue denger harganya jut-jutan gue sempet pengen mundur aja karena sebenernya gue juga bukan orang kaya berkelimpahan materi apalagi Ilyan juga cuman pembokat doang oy! Tapi setelah gue pikir2, kasihan juga si Ilyan. Masak hanya orang kaya aja yang boleh sembuh! Lagipula, gue khan harus komit dong dengan niat awal gue masak gue mundur hanya karena gue musti mengeluarkan duit sekian juta? Ini khan nyawa orang jekk........ Duit hilang bisa dicari, nyawa hilang dimana carinya? Ya udah setelah gue berembuk dengan suamiku yang tercinta, akhirnya kita sepakat untuk menolong Ilyan walaupun artinya kita harus hidup lebih hemat lagi dan bekerja lebih keras lagi. Gue percaya, Tuhan pasti akan membukakan jalan buat umatNya yang mau bekerja demi kemuliaanNya (buktinya gue dikirimin si Recky waktu gue bingung menghadapi Ilyan, gue juga dapat suami yang baik dan penuh pengertian + keluarga gue selama ini baik2 saja walaupun Ilyan sudah 3 bulan bekerja buat gue. Amin).



Setelah seminggu Recky berhasil mendapatkan sebuah rumah detox yang cukup baik dan relatif murah untuk Ilyan. Ilyan kita titipkan di sebuah klinik yang namanya “rumah Kemang”. Sebenarnya ini bukan klinik khusus detox namun klinik ini menyediakan layanan detox. Harga selama Ilyan tinggal disana adalah hampir Rp. 4.000.000,- untuk waktu seminggu. Mahal? Ada lagi yang lebih mahal, di daerah Cilandak ada sebuah klinik detox khusus wanita harganya Rp. 10.000.000,- untuk 5 hari. Mungkin ada sih tempat lain yang lebih murah sayangnya gue ngak tahu dan Recky juga ngak tahu. So, whatever come first. Yang penting Ilyan harus diselamatkan dulu. Sang pemilik “rumah Kemang” untungnya adalah seorang ibu yang penuh kasih, gue diperbolehkan membayar dengan jalan mencicil. Thanks berat bu Ince.



Nah...........selama seminggu si Ilyan di rumah Kemang, gue dan laki gue bisa tidur nyenyak. Sebelumnya kita seperti orang yang hidup ketakutan mulu. Rumah tidak pernah ditinggal pergi oleh gue dan laki gue, si Rascha asli ngak boleh dipegang lagi sama Ilyan (waktu itu si Ilyan belum test darah, jadi kita belum tahu apakah si Ilyan bebas dari hepatitis ataupun HIV), pintu depan-samping-atas selalu gue kunci dan kuncinya gue yang pegang. Pokoknya gue ngak akan membiarkan si Ilyan kabur sebelum waktunya.



Setelah seminggu, gue ditelepon oleh rumah Kemang, yang menanyakan kelanjutan treatment Ilyan. Kelanjutan treatment? Langsung gue panik (soalnya artinya musti keluar biaya lagi dong). Lagi2 untung ada Recky dan ibu Ince. Ibu Ince menawarkan solusi untuk menitipkan Ilyan ke Cikarang. Disana ada pak Hj. Endang yang sudah pernah merawat beberapa anak korban narkoba dengan biaya seadanya semampunya. Dan menurut ibu Ince, hasilnya juga cukup baik. Aneh sekali...........proses Ilyan ke rumah rehab (yang ternyata adalah sebuah pesantren --- walaupun pak Haji ngak mau bilang itu pesantren) ternyata berjalan mulus. Langsung hari itu juga si Ilyan dijemput ke Cikarang oleh salah seorang santrinya pak Hj. Endang, Yanto (yang ternyata adalah anak asuhan rumah Kemang, korban narkoba, yang berhasil sembuh dan sekarang menjadi tangan kanan pak Hj. Endang). Puji Tuhan!!!



So........ sekarang Ilyan ada di Cikarang. Di Cikarang, pak Hj. Endang selalu mengajak Ilyan untuk bersholat dan membicarakan pendalaman agama. Walaupun menurut Yanto, Ilyan masih belum kerasan, namun kata Yanto dulu sewaktu dia masih dalam posisi Ilyan dia juga melakukan hal yang sama. Jadi, gue rasa ini hanya fase yang harus dilalui Ilyan. Keadaan Ilyan baik2 saja walaupun menurut pemantauan Yanto, masih 50-50 kemauan sembuhnya. Sempat telpon ke rumah gue beberapa kali sambil merengek2 minta pulang namun gue terpaksa mengeraskan hati demi kebaikannya. Pokoknya selama pak Haji Endang merasa Ilyan belum stabil dan memberi izin, gue ikut keputusan pak Hj. Endang.



Well......... gue, laki gue, Recky, ibu Ince, Yanto dan keluarga pak Hj. Endang sudah dan akan selalu berusaha yang terbaik buat kesembuhan Ilyan namun jika memang tidak mau disembuhkan, gue yakin kita semua tidak akan sakit hati ataupun berharap banyak dengan pengorbanan kita selama ini. Yang penting we’ve done our best. Untuk itu gue mohon bantuan doa dari teman2 MP untuk mendoakan Ilyan dan anak2 yang kurang beruntung lainnya supaya mendapatkan kekuatan untuk bebas dari jeratan kuasa gelap narkoba. Mohon doa juga untuk orang2 yang hidupnya didedikasikan demi negara kita bebas dari narkoba.



Oh ya, untuk menjawab pertanyaan beberapa teman yang heran kenapa gue ngak ke polisi, ini nih jawabannya: Bayangkan, bagaimana seandainya Ilyan adalah saudaramu/ anakmu/ pasangan hidupmu yang selama ini kabur dari rumah, minta tolong tapi akhirnya malah dijebloskan ke penjara? Tidakkah Anda berharap mereka ada yang menolong dan mengembalikannya kepada keluarga Anda? Apalagi Ilyan sudah dengan jujur mengakui perbuatannya dan meminta tolong untuk dibantu untuk sembuh, apakah Anda tega menyerahkannya ke polisi untuk dihakimi dan diinterogasi? Yang penting khan menyelamatkan masa depannya dulu, jika memang akhirnya Ilyan sadar tentunya dia akan dengan senang hati membantu polisi tanpa harus melukai jiwanya (menurut Recky, ada beberapa anak korban narkoba, yang sudah sembuh, yang akhirnya menjadi informan polisi). Gue bukannya anti polisi loh, polisi itu PENTING sekali perannya dalam masalah narkoba hanya saja kita bisa membantu polisi tanpa harus menjadikan si korban sengsara khan? Aduh.......gue jadi ngelantur sendiri.



Intinya adalah jika kita masih bisa membantu maka membantulah, namun jika kita tidak sanggup ya cari bantuan lainnya. Namun jika tidak ada bantuan sama sekali maka cepat2 pecat karyawan semacam itu, jangan ditakut2i untuk dibawa ke polisi takutnya nanti malah dia tersinggung dan nanti malah bawa teman2nya untuk nyatronin rumah kita, hiiiiiiiiiiiii............serem.

Asdom + Narkoba (1)


Selama hidup gue yang baru sepotong ini, baru kali ini merasakan hidup dalam teror mental. Teror fisik, mental dan perasaan? Yup. Bayangkan Anda tidur dengan seekor ular berbisa di bawah kasur Anda. Walaupun tidak diketemukan oleh Anda namun Anda tahu pasti ada seekor ular di bawah sana karena banyak yang sudah melihatnya dan mereka menjerit-jerit meminta Anda pergi dari situ. Yah...... kira2 begitulah yang gue rasakan selama seminggu (21/09/06 sampai 27/09/06).

Sudah 3 bulan ini, gue merasa mendapatkan jackpot karena telah mendapatkan seorang pembantu idaman yang selama ini gue cari. Rajin, asertif, pro aktif dan tidak rewel sama sekali, pokoknya dia OK banget dah! Rasa2nya Too good to be true deh, dan ternyata emang benar feeling gue (feeling so good!). Sang pembantu, Ilyan (nama samaran --- dia minta namanya dirahasiakan, malu katanya), tiba2 minta berbicara berdua saja dengan gue. Kaget? Jelas dong, langsung semua indera gue bergetar2 menahan perasaan (biasanya kalau pembantu udah 3 bulan minta bicara pasti artinya adaaaaa aja alasannya untuk minta berhenti). Akhirnya kita ke kebun untuk berbicara.

Selama 5 menit awal kita cuma ngobrol ngalor ngidul mulai soal jerawat sampai soal kesehatan, dan perlahan2 gue mulai merasa bahwa Ilyan sebenernya punya maksud lain cuma berat buat dia untuk mulai. Gue pancing2, akhirnya doi buka mulut. Ternyata, doi minta tolong. Minta tolong untuk disembuhkan dari kecanduan narkoba. JRENG........ JRENG....... JRENG......... gue sampai kaget dan sempat tidak percaya dengan pengakuannya yang super polos itu.

Ilyan, 19 tahun, asal Bogor. Gadis hitam manis, yang selama ini gue kenal sebagai anak yang rajin, pro aktif, asertif, biasanya ceria (sebenernya moodnya tidak dapat ditebak --- kadang ceria, kadang jutek berat) koq bisa2nya jadi pencandu narkoba? Ternyata dari ceritanya, doi sudah memakai narkoba sejak doi berumur 13 tahun. 13 TAHUN? JRENG...... JRENG...... JRENG.......(lagi) gue nyaris pingsan nahan perasaan. Jadi udah 6 tahun ini doi make barang2 jahanam itu. Langsung gue tanya bagaimana caranya dia bisa make tuh barang sejak di rumah gue. Jawabannya benar2 menghancurkan hati. Doi nelpon teman bandarnya (make Hpnya sendiri) untuk supply barang ke rumah gue saat gue sekeluarga sedang keluar rumah. Gile benerrrrr. Gue kecolongan. Cara supplynya, si bandar ngelempar tuh barang lewat pager depan rumah gue atau kadang diselipin di ceruk pohon depan rumah atau kadang nunggu di pos hansip pas depan rumah gue. Hebat ngak tuh cara kerjanya. Asal tahu aja, semua pembantu gue ngak ada yang boleh keluar pagar rumah kecuali untuk buang sampah, belanja sayur dan nyapu halaman. Akses telpon juga dibatasi tapi percuma lah sekarang...... pembokat masa kini semua udah pada punya HP sendiri2. Hebatnya lagi, tuh bandar narkoba domisilinya khan di Bogor koq bisa2nya ke Jakarta demi ngempanin Ilyan doang dan pasnya lagi koq bisa saat gue sekeluarga ngak ada di rumah (gue jarang keluar rumah, biasanya kalau gue keluar laki gue yang di rumah dan biasanya kalau kita pergi paling lama cuman 2 – 3 jam doang). Dasar kalau emang udah niat semua juga bisa diterabas. Oh Tuhan.........

Marah, kecewa, sedih, takut dan panik. Semua perasaan negatif langsung nyerbu sekaligus. Saking datangnya berbarengan gue sampai ngak tahu musti berbuat apa. Tapi...... dalam hati terdalam ada rasa kasihan ngelihat anak ini. Gimana ngak kasihan coba, umur masih muda, masa depan masih panjang, doi udah nelen harga dirinya dengan mengaku ke gue secara terus terang (ini point yang bikin gue kagum ama dia) dan bukankah ini sama dengan jeritan minta tolong?

Dengan memasang muka poker, gue tetap memancing apa yang dirasakannya sampai sekarang. Dari ceritanya, gue jadi tambah patah hati mendengarnya. Ternyata Ilyan adalah anak 3 dari 4 saudara seorang pengusaha meubel mapan di daerah Bogor. Sejak kecil Ilyan merasa tidak dicintai oleh kedua orang tuanya. Menurut ceritanya, sang ortu hanya menyayangi anak I dan IV saja (cowoq). Sedangkan dia dan kakak perempuannya hanyalah warga kelas 2 dalam keluarganya. Ibunya hanya ikutan bapaknya saja. Jadi, saat Ilyan mulai sadar akan perbedaan sikap ortunya (waktu umur 12-13 tahun), Ilyan menjadi kecewa dan frustasi karena tidak ada tempat untuk mengadu. Oh ya, Ilyan sebelumnya bersekolah di Tsanawiyah setempat yang cukup baik. Tetapi mulai dari sanalah juga dia mengenal teman2 sekolahnya yang ternyata adalah pencandu dan bandar narkoba. Di saat2 usia remajanya yang memerlukan pengakuan dan penerimaan itulah Ilyan mulai mengenal narkoba. Barang pertama yang dipakainya adalah obat (kalau ngak salah BK). Sekali dipakai rasanya langsung enak, jadi lebih berani, dan bawaannya jadi asyik banget gitu loh (ini sih katanya Ilyan sendiri). Sejak saat itu setiap kali di rumahnya terjadi pertengkaran, Ilyan akan melarikan diri ke daerah Dermaga* (pos ngumpulnya anak2 ‘terbang’). Di situ dia bisa nginap sampai berhari2 sampai harus dipanggil pulang oleh ibunya. Yang akhirnya sampai di rumah malah jadi perkelahian dan akhirnya Ilyan kabur lagi ke Dermaga. Benar2 lingkaran setan!

Setelah beberapa kali kabur akhirnya Ilyan benar2 kabur meninggalkan rumah dengan jalan merantau ke Jakarta. Di Jakarta, Ilyan kerja serabutan. Kadang jadi penjaga toko, pembantu rumah tangga atau jadi pelayan kantin. Namun semua pekerjaan itu umurnya tidak bisa lebih panjang dari 10 bulan. Gimana bisa lebih dari 10 bulan, lah wong masih jadi pemakai begitu loh. Rata2 Ilyan keluar dari pekerjaannya karena di pecat atau karena Ilyannya sendiri yang minta keluar karena sakaw. Selama waktu Ilyan tidak bekerja, dia ditampung oleh temannya (sesama pemakai) yang tinggal di Tanah Abang*. Nah looooo.......... Di sana resume narkobanya semakin bertambah panjang. Mulai dari BK, Rohypnol, Magadon sampai akhirnya putauw dengan cara nyuntik beramai2 sudah dilakukannya. Gue sampai bergidik dengernya. Bayangkan selama 3 bulan ini artinya gue sekeluarga sudah hidup dengan orang yang beresiko menularkan penyakit Hepatitis dan HIV dong.........tapi demi supaya si Ilyan merasa nyaman menceritakan semua beban hatinya selama ini gue tetap harus menjaga ketenangan hati gue. Dalam hati, gue udah berserah sama Tuhan. Kalau mau mati mah tidak harus karena Hepatitis ataupun AIDS, ketabrak mobil atau tiba2 kompor meleduk juga bisa, ya udah gue berdoa dalam hati supaya Tuhan yang bekerja dalam masalah ini.

Balik ke cerita Ilyan. Menurut Ilyan, dia pengen berhenti tapi susah banget. Bujukan dari teman2nya lebih kuat dan dia benar2 tergantung dengan penerimaan teman2nya itu. Ah elo ngak asyik kalo ngak make, Il atau payah lo make begini aja ngak berani, demikian biasanya hasutan teman2nya itu setiap kali Ilyan menolak memakai ‘barang2 jahanam’ itu. Konyolnya lagi si Ilyan benar2 tergantung sama pendapat teman2nya itu, jadilah Ilyan sibuk membela teman2nya kalau gue bilang kalau teman2 macam itu sebaiknya ditinggalkan. Bener2 pusing gue.

Gileeeee panjang amat cerita gue. Nanti ah berlanjut di jurnal selanjutnya. Tapi kalau ada yang mau sumbang saran dan ide untuk bagaimana menghadapi Ilyan, gue akan sangat berterima kasih.

Catatan:

* Dermaga adalah sebuah daerah di Bogor yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya bandar2 narkoba. Gue tahunya juga dari si Ilyan.

* Tanah Abang juga notoriously known as pusatnya narkoba di Jakarta.